Michael (2026): Sisi Lain King of Pop

review film michael jackson 2026, michael jackson 2026, michael jackson king of pop

Michael Jackson!

Akhirnya kesampaian juga saya nonton filmnya weekend kemarin. Sebelum masuk studio, saya sengaja nggak ngintip spoiler dari orang-orang yang sudah lebih dulu menonton. Biar pengalaman pertamanya tetap utuh.

Saya datang ke XXI Ciwalk sekitar tiga puluh menit sebelum film tayang. Pas pilih kursi, saya langsung takjub. Waaaah… nggak nyangka peminatnya masih banyak banget. Bayangin aja, saya yang pede datang setengah jam sebelum pintu studio dibuka ternyata kalah cepat sama penonton lain yang sudah duluan booking tiket. Entah beli on the spot atau lewat aplikasi.

Sampai sekarang fans Michael Jackson ternyata masih seantusias itu. Gokil!

Akhirnya saya pasrah duduk di row F hahaha. It’s okay. Malas juga kalau harus balik lagi di hari lain cuma demi cari kursi yang lebih tinggi letaknya. Biasanya row A-D jadi prioritas saya.

Filmnya dibuka dengan adegan berlatar tahun 1964 di Gary, Indiana. MJ kecil terlihat menatap dari jendela, memperhatikan anak-anak yang sedang riang bermain di luar. Wajahnya ikut berbinar melihat mereka. Tapi momen itu cuma sebentar.

Joseph Jackson, ayahnya, muncul dan langsung mengingatkan satu hal: latihan.

Masa kecil MJ memang nggak jauh dari nyanyi, latihan, repeat. Berani komplain? Nih, ngobrol dulu sama sabuknya Joseph.

Sekeras itu memang didikan ayahnya MJ. Saya sampai sebel lihat tampangnya Joseph. Dih, ayah macam apa ini? Anak sudah capek, situ enak-enaknya nyuruh latihan terus. Dasar mata duitan! *Sabar Fi, sabaaaar. Jangan emosi.*

Ada satu scene ketika MJ pulang larut malam. Bayangin, kita aja kalau habis main lalu pulang malam rasanya sudah pengin recharge sambil rebahan. Lah MJ? Istirahat? In your dream.

Joseph tetap keukeuh MJ kecil harus latihan dan nggak boleh tidur. Katherine, mamanya MJ pun nggak berdaya buat membela. Dia cuma bisa memandangi anaknya yang dieksploitasi segitunya dengan wajah sedih. Coba kalau zaman itu sudah ada Kak Seto ya? Wkwkwk. Kuaduin kau ke KPA Mamarika.

Lagu Ben dan I'll Be There jadi dua lagu Jackson Five yang paling membekas buat saya. Di film ini, dua lagu itu juga muncul loh.

Btw tiap ada scene yang memunculkan MJ nyanyi, saya nggak bisa ikutan nyanyi. Penonton lain anteng banget, nggak ada yang sing along. How come? Biasanya film musikal suka mancing penonton ikut nyanyi bareng. Lah ini enggak. Huhuhu sedih saya.

Belakangan saya baru tahu kalau di tempat lain ada gelaran nobar yang dikemas ala konser. Iri saya. Akhirnya saya nyanyi kecil sendiri sambil goyang-goyang kaki. Nggak tahan kalau harus diem aja hahaha.

Namanya juga Jackson Five, berarti berlima. Selain MJ, grup bentukan Joseph ini diisi Jackie, Tito, Jermaine, dan Marlon. Sebenarnya MJ juga punya dua saudara perempuan: La Toya dan Janet. Di film ini La Toya sempat muncul, tapi Janet tidak.

Mungkin karena saat Jackson Five dibentuk—yang juga jadi awal cerita film ini—Janet memang belum lahir. Janet lahir tahun 1966, ketika kakak-kakaknya sudah mulai ngamen dari kafe ke kafe sampai akhirnya masuk studio rekaman.

Kalian tahu kan kalau gerakan kaki MJ itu jadi signature-nya dia? Dulu waktu masih bocil, Michael malah dipaksa nahan kakinya biar nggak uget-uget. Bahkan saat tapping di studio, ia kena tegur:

“Bisa diem nggak kakinya?”


Michael cuma bisa pasrah. Bahkan urusan gerakan kaki pun ikut diatur. Joseph ini memang rese. Bukan cuma soal latihan dan nyanyi, tapi sampai apa yang dipikirkan anaknya pun dia atur.

Tapi kemudian ada satu momen ketika Michael akhirnya dapat angin. Dia bebas memainkan kakinya! MJ happy banget dan mulai terus bereksperimen.

Saat remaja dan mulai solo karier, dia bahkan mencari komunitas lain buat menemukan style dance khasnya. Thriller jadi salah satu bukti keberhasilannya.

MJ bukan cuma punya suara emas. Konsep tarian, kostum, sampai angle kamera pun dipikirkan matang-matang. Nggak heran kalau tiap manggung penampilannya selalu spektakuler. Beneran totalitas yang luar biasa.

Dari tekanan ayahnya yang otoriter, MJ jadi sosok perfeksionis, tapi tetap ramah sekaligus pemalu.

Mungkin karena pertimbangan kategori penontonnya untuk semua umur, adegan hukuman sabuk yang saya sebut di awal nggak diperlihatkan secara eksplisit. Di sisi lain, Mike juga digambarkan bukan sosok pendendam.

Saya rasa ini nggak lepas dari peran ibunya, Katherine. Walau terlihat tidak berdaya, Katherine tetap jadi mataharinya Mike. Adegan Mike nonton bareng Katherine sambil makan popcorn itu buat saya heart warming banget.

Luka pengasuhan  yang ditorehkan Joseph ternyata nggak membuat Mike membalas dengan cara yang sama. Mike justru tumbuh jadi sosok penyayang terhadap anak-anak dan mereka yang terpinggirkan. Makanya Mike suka ngajakin anak-anak tampil di konser atau menampilkan mereka di klip musiknya.

Kalau diperhatikan, ada momen ketika Mike menangis sambil menunduk saat menyanyikan I'll Be There, lagu lamanya di era Jackson Five.

Rasanya seperti melihat seseorang yang sedang mengingat masa kecilnya yang pahit, lalu nggak menyangka akhirnya bisa berdiri di puncak karier sebagai King of Pop.

Sebenarnya Mike punya cara sendiri buat membalas “dendam” ke ayahnya. Dan caranya ini bukan yang brutal. Sarkas, tapi lucu. Saya ngakak waktu Mike menyuruh penasihatnya, John Branca, mengirim facsimile ke Joseph.

Entah gimana reaksi aslinya Joseph di dunia nyata, tapi di film dia cuma konfirmasi ke Mike:

“Kamu nyuruh Branca ngirim ini?”


Wkwkwkwk. Sweet revenge kata saya mah.

Tapi dasar Joseph memang kemaruk. Dia tuh nggak ada kapok-kapoknya. Tetap aja berusaha mengeksploitasi Mike dengan membuat tur keliling dunia Jackson Five. Ide gila yang juga ditentang kakak-kakaknya Mike. Tapi lagi-lagi mereka nggak punya daya buat melawan keinginan Joseph.

Terus Mike diem aja? Tentu tidak. Dia masih punya cara lain buat membalas hahaha. Nice, Mike!


Film ini memang belum menceritakan perjalanan Mike secara utuh. Tapi tenang, bakal ada sequelnya. Saya yakin penonton lain juga berharap film berikutnya menghadirkan lebih banyak lagu ikonik Mike seperti Heal The World, I Just Can't Stop Loving You, Remember The Time, atau Black or White.

Khusus Black or White, saya malah merasa adegan Macaulay Culkin di videonya seperti bentuk kekesalan Mike terhadap Joseph. Ada yang sepemikiran nggak?



Film berdurasi 127 menit ini benar-benar nggak bikin nyesel buat ditonton. Apalagi Jaafar Jackson bukan cuma mirip banget sama Mike, tapi juga berhasil meng-impersonate pamannya sampai melampaui ekspektasi.

Rasanya kayak lihat Michael Jackson hidup lagi. Misalnya pas adegan membahas konsep gerakan Thriller, saya sampai merasa: ini kok kayak Mike beneran yang ngomong, bukan Jaafar yang lagi akting?


Kalau kamu, paling suka lagu Michael Jackson yang mana?

Hai. Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak. Saya seorang cat lover, fans Liverpool dan suka nonton film. Selain blog ini, saya juga punya blog lainnya khusus tentang buku dan film di https://resensiefi.my.id Untuk kontak personal dan kerjasama, silahkan kirim email ke efi.f62@gmail.com

Posting Komentar